Tampilkan postingan dengan label KEUANGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KEUANGAN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 April 2013

HAPUS TAGIH PIUTANG BUMN


(Kompas, 8 April 2013)

(Kompas, 9 April 2013)

Jumat, 22 Juli 2011

SAHAM MERUPAKAN BUKTI KEPEMILIKAN

(Vibiznews - Stocks) Suatu bisnis dimulai ketika seseorang atau sekelompok kecil orang yang menaruh uang mereka, dimana orang atau beberapa orang ini memiliki fungsi sebagai pemilik yang besar kepemilikanya disesuaikan dengan berapa besar uang diinvestasikan dalam menjalankan bisnis tersebut. Pada titik ini, kepemilikan perusahaan dikelola secara “perusahaan pribadi atau private company.“






Setelah bisnis mencapai ukuran tertentu, perusahaan dapat memutuskan untuk "go public" dan menjual kepemilikannya kepada masyarakat. Ini adalah bagaimana saham diciptakan. Ketika Anda membeli saham, Anda menjadi pemilik bisnis. Nilai dari kepemilikan saham akan naik dan turun sesuai dengan keberhasilan bisnis yang mendasarinya. Semakin baik bisnis tersebut, semakin tinggi nilai saham Anda, semakin besar keuntungan yang dapat diperoleh.

Meskipun Anda bergelar sarjana atau master, untuk berinvestasi pada instrumen keuangan saham, Anda memerlukan latihan intelektual yang terus menerus. Ini membutuhkan usaha, tetapi bisa membuahkan hasil imbal balik atau keuntungan yang lebih banyak. Berinvestasi pada saham tidak hanya mengenai tingkat pengembalian yang memiliki potensi lebih tinggi pada nilai investasi Anda, tetapi juga pemahaman lebih besar mengenai bagaimana dunia keuangan bekerja. Memahami cara kerja Saham sama dengan memahami bagaimana uang mengalir dan bagaimana bisnis bersaing dengan satu sama lain. Setidaknya diperlukan kombinasi mutlak antara pengetahuan dasar mengenai matematika dan akuntansi; keterampilan menganalisa atau berpikir kritis; dan mental kesabaran maupun disiplin.

Setiap topik dalam rangkaian tulisan ini dan tulisan yang akan  datang akan membawa Anda mengenal setahap demi setahap mengenai Saham dan Istrumen Investasi lainnya. 

Saham adalah salah satu cara dari banyak cara berinvestasi dari uang hasil jerih payah yang Anda kumpulkan selama beberapa tahun. Masih banyak pilihan untuk berinvestasi selain saham, insutrumen keuangan lainnya adalah obligasi, atau membeli rumah, atau mobil atau lukisan atau investasi dalam bentuk forex maupun produk-produk derivatives pada futures product dan produk-produk komoditi lainnya. Alasan yang sangat sederhana berinvestasi pada instrumen keuangan saham bagi beberapa orang adalah bahwa saham merupakan cara cerdas berinvestasi karena saham menyediakan potensi hasil imbal balik tertinggi dalam jangka panjang, dimana hampir tidak ada jenis investasi lainnya yang memiliki kecenderungan dapat memberikan yang lebih baik.

Pada sisi negatifnya, saham cenderung menjadi investasi yang paling volatile. Ini berarti bahwa nilai saham bisa drop dalam jangka pendek. Kadang-kadang harga saham bisa jatuh untuk periode yang tidak sebentar. Misalnya, seseorang menempatkan semua tabungannya dengan membeli saham pada awal tahun dengan harga yang murah, ada kemungkinan dimana penurunan nilai saham tersebut bukannya menjadi lebih baik, bahkan dalam jangka panjang Anda bisa kehilangan semua uang Anda!

Pilihan berinvestasi pada saham tanpa bekerja ekstra adalah melalui Reksadana saham. Mirip dengan berinvestasi pada saham, hanya uang Anda akan dikumpulkan bersama dengan uang para investor lain, dan kemudian dikelola oleh sekelompok profesional yang akan berusaha untuk mendapatkan hasil imbal balik yang dapat memenuhi harapan Anda dari sejumlah saham dari berbagai Perusahaan atau portfolio. Selain membutuhkan kurang banyak usaha, salah satu keuntungan utama dari Reksadana adalah kurang volatile. Statistik sederhana memperlihatkan bahwa portofolio akan mengalami volatilitas kurang dari masing-masing komponen saham, dimana jika reksadana terdiri dari kumpulan 50 saham, itu sangat tidak mungkin bahwa semua dari saham tersebut memilikik volatilitas yang menurun sehingga tingkat pengembalikan dana dapat relatif diatasi untuk masing-masing saham tersebut. Dalam investasi, risiko dan pengembalian erat berkorelasi – dimana peningkatan saham yang satu akan mengimbangi kemungkinan pengurangan saham lainnya. Para profesional menjalankan reksadana tidak melakukannya secara gratis. Mereka memungut biaya, misalnya, membayar 1% per tahun. Berinvestasi pada reksadana sering dibuat paling masuk akal bagi mereka yang memiliki uang dengan jumlah yang relatif kecil dengan biaya yang paling efisien dibandingkan dengan memilih berinvestasi untuk berinvestasi pada saham secara langsung terutama karena risikonya.

Bagaimana jika sekelompok orang Profesional yang Anda pilih untuk mengelola investasi Anda tidak melakukan dengan baik? Sama seperti dengan saham, tidak ada jaminan kembali dalam reksa dana. Karena itu, untuk berinvestasi pada Reksadana, memilih kelompok Profesional merupakan hal yang terpenting.

Tentu saja prinsip bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Anda dapat mempelajari bagaimana mengelola risiko menjadi relatif dapat diterima untuk suatu hasil imbal balik yang Anda diharapkan. Banyak dari orang-orang yang memiliki pengalaman karena telah lebih dahulu dari Anda menempatkan uang pada Saham yang dapat membantu Anda memilih bisnis yang tepat sekaligus membantu Anda melihat untuk menghindari risikonya.

Sekali lagi, berinvestasi pada instrumen saham merupakan upaya yang cukup pantas untuk dipilih. Bagaimana pun, Anda tidak dapat mengabaikan bahwa pada instrumen keuangan Saham memiliki potensi tingkat hasil imbal balik yang lebih tinggi. Pengalaman membuktikan dalam jangka panjang, uang yang Anda investasikan pada Saham dapat bekerja lebih keras untuk Anda dibandingkan dengan hampir semua instrumen investasi lainnya.

(Bernhard Sumbayak/AS/vbn - Founder & Chairman Vibizconsulting)

MENGAPA ORANG MEMBELI SAHAM

(Vibiznews - Stocks) Pada tulisan pertama telah dibahas mengenai pengertian instrumen keuangan saham dan bagaimana saham diciptakan sehingga ketika Anda membeli saham, Anda menjadi pemilik bisnis. Tulisan ini akan menguraikan mengapa orang membeli saham yang mungkin terdengar klise, terutama ketika pasar saham mengalami tingkat penurunan yang jauh nilainya dari harga awal ketika dibeli, tapi selama saham jangka panjang adalah investasi yang baik. Angka-angka yang ada untuk membuktikannya. Catatan masa lalu pasar saham telah membuktikan memberikan hasil imbal balik yang melebihi bentuk-bentuk investasi lainnya.


Mengapa Orang Membeli Saham
Mengapa berinvestasi di pasar saham sementara menempatkan dana dalam rekening Tabungan atau Deposito mungkin lebih aman dan memiliki tingkat bunga tinggi? Instrument keuangan saham memiliki bentuk yang sangat berbeda dengan produk Tabungan dan Deposito, walaupun demikian,  menempatkan dana pada instrumen keuangan saham, sekalipun memiliki risiko, sampai saat, tingkat pengembalian atau hasil imbal balik instrumen saham sangat jauh dibandingkan dengan hasil imbal balik yang diperoleh dari tingkat bunga Tabungan dan Deposito, bahkan Properti sekalipun.

Risiko dapat diatasi dengan Anda memiliki portofolio saham seimbang dan Anda memegang saham tersebut dalam jangka panjang – misalnya lima sampai tujuh tahun. Bagaimana dengan kondisi pasar pada tahun 2010 yang lalu atau semester pertama tahun 2011 ini, banyak orang mengatakan keadaan pasar naik turun seperti “roller coaster.”  Pada kondisi ini banyak orang menempatkan dana mereka pada instrumen obligasi bahkan Tabungan dan Deposito. Menempatkan dana pada instrumen yang berbeda ini merupakan tindakan menyeimbangkan portfolio investasi untuk menyebar risiko berinvestasi. Ketika tingkat Bunga yang diterima dari obligasi sangat kecil demikian pula dengan tingkat bunga Tabungan dan Deposito yang lebih rendah dari tingkat inflasi, maka memilih saham yang berbeda untuk menyeimbangkan risiko dalam suatu portfolio merupakan pilihan investasi yang dapat memberikan hasil imbal balik yang terbaik.

Naik Turun di Pasar Saham.
Pasar Saham dapat digambarkan dengan pasar atau supermarket. Tentunya Anda sering membandingkan harga ikan, atau daging, atau sayur-mayur, hal yang sama juga terjadi dengan saham. Pasar melakukan tugas dasar yang sama dimana terdapat pembeli sesuai dengan penjual dan harga yang ditentukan oleh persediaan dan permintaan. Dengan mengambil contoh harga makanan dipasar, dimana harga dengan potongan atau diskon terbaik dan jenis ikan atau daging yang paling segar akan menjadi ikan atau daging atau sayur-mayur yang paling laris dan karena itu harga akan menjadi yang tertinggi. Di pasar saham, pendorong utama harga saham adalah prospek keuntungan dan risiko yang berkaitan dengan investasi. Jadi jika pasar memperhitungkan laba sebuah perusahaan akan tetap atau meningkat selama beberapa tahun ke depan, sahamnya akan lebih dicari dari saham dalam kelompok yang laba diperkirakan akan turun.

Seperti juga ikan dan daging, maka informasi mengenai jenis ikan atau daging yang terbaik sangat diperlukan, demikian juga dengan saham; informasi mengenai jenis saham adalah dominan yang sangat menentukan pengaturan harga saham.
Meskipun tidak mungkin untuk mengetahui setiap detail tentang perusahaan, atau memprediksi pasang surut harga saham. Misalnya berita tentang nasib perusahaan adalah penting dalam menentukan apakah akan membeli atau menjual saham. Harga saham akan naik dan jatuh sangat bergantung pada berita-berita. Pastinya, berita yang baik akan meningkatkan harga, dan sebaliknya harga akan turun jika beritanya buruk.

Lebih jauh mengenai turun dan naik harga saham.
Jangan membuat kesalahan dengan percaya bahwa valuasi saham didasarkan pada harga saham. Ada perhitungan sederhana yang mengukur nilai perusahaan. Hal ini dikenal sebagai rasio harga laba, atau P / E.

Contoh: P / E saham Perusahaan A adalah 14 menurut Media A. Ini berarti harga saham tersebut bernilai 14 kali dari laba per saham (Earning per Share) periode bersangkutan. Sementara itu, saingannya saham perusahaan B memiliki P / E 23 - atau 23 kali dari pendapatan per saham periode yang sama. Jadi apa yang kita pelajari dari hal ini? Sederhananya, harga pasar saham B lebih tinggi dibanding A. Namun demikian, perlu diperhatikan karena P / E  bervariasi dari satu sektor ke sector lainnya.
    
Berikut adalah contoh salah perusahaan “Go Public” yaitu perusahaan Telekomunikasi Indonesia. Data perhitungan Revenue menunjukan angka yang akan terus meningkat sejak tahun 2005 sampai diperkirakan tahun 2013. Sementara itu di tahun 2011 EPS-nya cenderung turun. Namun dengan perkiraan revenue tahun-tahun akan datang meningkat, sementara harga saham TLKM yang sempat terkoreksi selama beberapa bulan terakhir, maka saham emiten ini berpotensi diburu investor lagi dan meningkatkan lagi harganya di tahun mendatang.


(Bernhard Sumbayak/AS/vbn - Founder & Chairman Vibizconsulting)